Sabtu, 19 Februari 2011

Pendidikan dan Kebudayaan di China

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN CINA
Lailatu Rohmah, M.S.I[1]
I.     Pendahuluan
A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peranan yang sangat strategis dalam membangun suatu masyarakat bangsa. Melalui pendidikan suatu bangsa dapat mengembangkan masyarakatnya menjadi masyarakat dan bangsa yang maju. Karena melalui pendidikan akan dapat dikembangkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang ingin dikembangkanya. Hal ini terlihat dari berbagai kenyataan, bahwa suatu masyarakat dan bangsa maju pasti memiliki suatu sistem pendidikan yang baik.
Cina misalnya, dalam beberapa tahun terakhir, berhasil membuat prestasi yang sangat mengagumkan, yaitu merubah kondisi sosial ekonomi masyarakatnya, yang tadinya hanya sebagai negara berkembang, yang hanya mampu menyediakan kebutuhan dasar masyarakatnya, kemudian berubah dan masuk ke tahap awal menjadi masyarakat yang makmur. Perubahan yang dialami Cina merupakan perubahan yang sangat berarti. Perkembangan ekonomi dan kemajuan yang dialami Cina sangat dikagumi dunia dan dihormati oleh banyak kalangan.
Sebuah ungkapan yang menggambarkan kekuatan Cina adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Napoleon Bonaparte: biarkan Cina terlelap, sebab jika Cina terbangun, dia akan mengguncang dunia lagi.[2] Pernyataan Napoleon tersebut dapat kita tafsir paling tidak menjadi dua pengertian. Pertama, ada ketakutan yang mendalam dari bangsa Eropa terhadap eksistensi Cina. Karena, Cina dipandang sebagai bangsa yang memiliki potensi besar untuk dapat bersaing dan bisa jadi dapat mengungguli kejayaan Eropa sekarang ini. Kedua, pernyataan ini seakan memberi penanda bahwa Cina pernah menjadi bangsa yang besar dan digdaya.
Pengakuan dan kekhawatiran para tokoh dunia akan kekuatan Cina tidak hanya disampaikan oleh Napoleon Bonaparte, namun Bill Bonner pakar Amerika Serikat yang mengkhawatirkan kondisi bangsanya di masa depan  juga menyatakan kekhawatirannya: “Bisa dibayangkan dalam waktu 20 atau 30 tahun ke depan, mungkin akan banyak orang Amerika yang mencari pekerjaan sebagai baby sitter di Cina.”[3] Hal ini terkait dengan pendidikan karakter yang diajarkan di Cina. Apabila Cina bisa berhasil mendidik 1,3 miliar manusianya menjadi manusia yang berkarakter (rajin, jujur, peduli, dan sebagainya), maka jumlah penduduk sebesar itu akan menjadi kekuatan yang amat dahsyat bagi kemajuan Cina.
Begitu besarnya kekhawatiran Eropa akan kekuatan bangsa Cina, hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk membahas sistem pendidikan, kebudayaan, dan nilai-nilai dasar yang dipegang teguh oleh orang-orang Cina, sehingga membawa kemajuan yang amat pesat pada bangsanya.
II.     Pembahasan
A.   Sekilas Tentang Cina
Republik Rakyat Cina juga disebut Republik Rakyat Tiongkok/ RRT adalah sebuah negara komunis yang terdiri dari hampir seluruh wilayah kebudayaan, sejarah, dan geografis yang dikenal sebagai Cina. Sejak didirikan pada 1949, RRC telah dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC). Sekalipun seringkali dilihat sebagai negara komunis, kebanyakan ekonomi republik ini telah diswastakan sejak tiga dasawarsa yang lalu. Walau bagaimanapun, pemerintah masih mengawasi ekonominya secara politik terutama dengan perusahaan-perusahaan milik pemerintah dan sektor perbankan. Secara politik, ia masih tetap menjadi pemerintahan satu partai.
RRC adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia, dengan populasi melebihi 1,3 milyar jiwa, yang mayoritas merupakan bersuku bangsa Han. RRC juga adalah negara terbesar di Asia Timur, dan ketiga terluas di dunia, setelah Rusia dan Kanada. RRC berbatasan dengan 14 negara: Afganistan, Bhutan, Myanmar, India, Kazakhstan, Kirgizia, Korea Utara, Laos, Mongolia, Nepal, Pakistan, Rusia, Tajikistan dan Vietnam. Kepala negaranya dipimpin oleh seorang presiden.
Letak geografis Cina secara rinci adalah sebagai berikut:
1.    Sebelah utara: Mongolia, Rusia, dan Kazakhtan.
2.    Sebelah barat: Pakistan, Kirgnistan, dan Tadzikistan.
3.    Barat daya: India, Bhutan, dan Nepal.
4.    Selatan : Asia Tenggara.
5.    Timur : Korea dan Jepang. [4]
B.  Kebudayaan dan Nilai-Nilai Dasar Cina
Menurut para sejarawan, sejarah kebudayaan Cina adalah salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah Cina telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Penemuan ini cukup membuktikan betapa bangsa Cina telah mengalami proses kehidupan yang teramat panjang di alam dunia ini. Sebagai kebudayaan tertua di dunia, Cina memiliki perbedaan yang unik jika dibandingkan dengan kebudayaan dan peradaban dunia lain seperti Mesir dan Babilonia. Hal ini disebabkan sejarah kebudayaan Cina tidak pernah terputus selama hampir 5.000 tahun lamanya.[5]
Pergantian pemerintahan dari dinasti ke dinasti tidak mengakibatkan kebudayaan dan peradaban Cina mengalami kehancuran dan pergeseran yang teramat besar. Bahkan, hingga kini, peradaban bangsa Cina masih terus eksis dan bertahan, bahkan menjadi perhatian banyak orang, baik dari kalangan ilmuan, pengamat, arkeolog, sosiolog maupun kalangan lain. Menurut keterangan, orang seperti Ibnu Batutah dan Marco Polo di masanya sangat menaruh minat yang mendalam terhadap kebudayaan Cina.
Melalui jasa kedua orang inilah, konon, dunia mengetahui kebesaran dan kemegahan kebudayaan bangsa Cina dalam segala bidang. Nabi Muhammad pun dalam satu riwayatnya pernah menyeru umat manusia untuk belajar ke negeri Cina. Menzies dalam bukunya 1434 memberi kesimpulan yang cukup mencengangkan bahwa kemajuan materi peradaban dunia saat ini, terutama dunia Eropa, sesungguhnya mendapat sumbangsih yang cukup besar dari hasil teknologi peradaban Cina.
Kesimpulan Menzies ini sebetulnya ingin meluruskan pandangan yang mengatakan bahwa renaisans dilukiskan sebagai masa kelahiran kembali peradaban Eropa Klasik Yunani dan Romawi. Bagi Menzies justru percikan penularan pengetahuan intelektual Cina merupakan bukti yang tak dapat dipungkiri sebagai percikan api yang mengobarkan renaisans di Eropa hingga kini. Dalam buku setebal 430 halaman ini, Menzies memberikan banyak bukti tentang pengaruh Cina dalam kebangkitan kebudayaan Eropa sekarang ini.[6]
Budaya dan nilai dasar orang Cina telah mendarah daging dalam setiap tubuh mereka. Hebatnya lagi, di mana pun mereka tinggal maka mereka akan terus mempercayai dan meyakini budaya leluhur. Orang Cina begitu teguh memegang budaya mereka walaupun mereka tidak lahir atau dibesarkan di tanah Cina. Cina adalah negara yang bangga dengan negaranya karena kebudayannya adalah salah satu kebudayaan tertua di dunia yang hampir setara dengan Mesopotamia dan Mesir. Tak heran jika kebudayaan itu benar-benar menempel di sanubari mereka.[7]
Kini kita bisa melihat sejumlah orang Cina yang sukses dalam kariernya. Mereka pun memegang kendali perekonomian dunia. Pengusaha Cina banyak yang sukses karena budaya dan nilai-nilai dasar yang dianut oleh mereka. Budaya dan nilai-nilai dasar Cina itu tidak terlepas pada guru-guru mereka di masa lampau, seperti Confucius (Kong Hu Cu), Lao Tzu (pendiri Tao), dan Sun Tzu (strategi perang).[8]
1.    Confucius (Kong Hu Cu)
Ajaran Konfusianisme atau Kong Hu Cu adalah aliran filsafat yang dikembangkan oleh Konfusius (Kong Zi). Beliau adalah seorang filsuf dari negara Lu. Prihatin dengan keadaan negerinya, ia berkelana untuk menyebarkan ajarannya yang berkisar pada masalah moral. Ada beberapa ajaran besar dari Konfusius antara lain:
a.    Sangat mementingkan akhlak yang mulia dengan menjaga hubungan antara manusia di langit dengan manusia di bumi secara baik.
b.    Penganutnya diajarkan untuk tetap mengingat nenek moyang seolah-olah roh mereka hadir di dunia ini.
c.    Ajarannya merupakan susunan falsafah dan etika yang mengajarkan bagaimana manusia bertingkah laku.[9]
d.   Bahwa semua manusia itu pada dasarnya baik. Meng Zi menyatakan bahwa semua manusia itu pada dasarnya baik. Untuk itu, yang diperlukan adalah kesadaran moral untuk membuat manusia menyadari kesalahannya. Hukum yang ketat tidak diperlukan apabila semua manusia sudah memiliki kesadaran moral yang baik.[10]
Konfusianisme merupakan kunci relasi-relasi dalam keluarga: ayah-anak, suami-istri, adik-kakak (sistem tiga generasi) dan sistem lima generasi (ayah-anak, suami-istri, adik-kakak, kakek-cucu lelaki, dan paman-kemenakan lelaki). Bagi Konfusius, relasi ayah-anak, suami-istri, dan adik-kakak, juga seharusnya menjadi sifat dalam relasi yang dibangun oleh aparat pemerintah (kaisar-menteri, menteri-rakyat, kaisar-rakyat).[11]
2.    Lao Tzu (Pendiri Tao)
Taoisme merupakan ajaran Laozi yang berasaskan Daode Jing. Pengikut Laozi yang terkenal adalah Zhuangzi yang merupakan tokoh penulis kitab yang berjudul Zhuangzi. Laozi (570-470 SM) dilahirkan di Provinsi Ku, Chuguo, sekarang dikenal sebagai Provinsi Henan.[12]
Taosime berasal dari istilah “Dao” yang berarti “tidak berbentuk”, “tidak terlihat”, tetapi merupakan jalan atau cara munculnya semua benda hidup dan alam semesta. Dao mewujud dalam semua benda hidup dan kebendaan adalah De. Gabungan Dao dengan De diperkenalkan sebagai Taoisme sehingga menjadi dasar ilmiah. Taoisme bersifat tenang, lembut seperti air, dan abadi. Manusia akan abadi jika sudah mencapai kesadaran Dao dan akan menjadi dewa. Para penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao dan mendewakannya. [13]
Taoisme juga mengenalkan teori Yin-Yang, dalam Daode Jing Bab 42: “Dao melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan. Yin dan Yang. Yin dan Yang saling bertindak sehingga menghasilkan tenaga atau kuasa. Dengan tenaga ini maka lahirlah jutaan benda di dunia. Setiap benda di alam semesta mengandung Yin-Yang yang saling bertindak untuk mencapai keseimbangan. Yin dan Yang diterjemahkan menjadi negatif dan positif. Setiap benda adalah dualism, positif mensyaratkan adanya negatif; tidak negatif dan tidak positif jadinya kosong, tidak ada apa-apa.[14]

3.    Sun Tzu
Sun Tzu merupakan tokoh yang terkenal dengan keahliannya dalam berperang dan berdagang. Dia dilahirkan pada tahun 535 SM di kota Tung-an di Semenangjung Shantung. Sejak kecil ia diharapkan untuk mengikuti jejak ayahnya, Jenderal T’ien Shu, dan dididik ketatanegaraan, taktik, dan strategi perang, teknik-teknik persekongkolan serta kegiatan mata-mata. Di penghujung kariernya, dia menuangkan semua pengetahuan tentang berperang yang diperolehnya dari ayahnya maupun pengalaman sendiri dalam jurnal yang diberi nama Pin Fa (Seni Berperang).[15]

C.  Filsafat Pendidikan di Cina
Sikap orang Cina yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya tela melahirkan sebuah filosofis orang Cina mengenai pendidikan dan pendidikan ini telah lama menjaga kekuasaan Cina berapa lama, sampai pada masuknya bangsa asing ke Cina yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno di Cina.
Tradisi pemikiran falsafah di Cina bermula sekitar abad ke-6 SM pada masa pemerintahan Dinasti Chou di Utara. Kon Fu Tze, Lao Tze, Meng Tze dan Chuang Tze dianggap sebagai peletak dasar dan pengasas falsafah Cina. Pemikiran mereka sangat berpengaruh dan membentuk ciri-ciri khusus yang membedakannya dari falsafah India dan Yunani.[16]
Dalam upaya melihat bahwa teori dan kehidupan praktis tidak dapat dipisahkan, kita perlu melihat bagaimana orang Cina memahami hubungan antara teori dan praktek dalam suatu pemikiran yang bersifat falsafah. Kita juga perlu mengetahui bagaimana teori dihubungkan dengan kehidupan nyata. Ada dua perkara yang harus dikaji dan ditelusuri secara mendalam: Pertama, konsep umum tentang ‘kebenaran’ dalam falsafah Cina; kedua, kemanusiaan yang dilaksanakan dalam kehidupan nyata dan kemanusiaan yang diajarkan para filosof Cina dalam sistem falsafah mereka. Secara umum pula pemahaman terhadap dua perkara tersebut ditafsirkan dari Konfusianisme, yaitu ajaran falsafah yang dikembangkan dari pemikiran Konfusius. Konfusianisme sendiri berkembang menjadi banyak aliran, di antaranya kemudian dikembangkan menjadi semacam agama, dengan kaedah dasar dari ajaran etikanya yang dirujuk pada pandangan atau ajaran Konfusius. Sebagai ajaran falsafah pula, Konfusianisme telah berperan sebagai landasan falsafah pendidikan di Cina selama lebih kurang 2000 tahun lamanya. Karena itu ia benar-benar diresapi oleh bangsa Cina secara turun temurun selama ratusan generasi. Konfusisnismelah yang mengajarkan bahwa antara teori dan praktek tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan individu atau masyarakat. Dalam Konfusianisme, seperti dalam banyak falsafah Cina yang lain, pemikiran diarahkan sebagai pemecahan masalah-masalah praktis . Karena itu falsafah Cina cenderung menolak kemutalakan atau pandangan hitam putih secara berlebihan. Kebenaran harus diuji dalam peristiwa-peristiwa aktual dalam panggung kehidupan, dan baru setelah teruji ia dapat diakui sebagai kebenaran.

D.  Sistem Pendidikan Cina
Sistem pendidikan Cina bersifat terbuka. Guru diklasifikasikan berdasarkan kualitas. Siswa bebas mengevaluasi kualitas guru secara objektif. Manajemen pendidikan di Cina ialah sentralisasi, mulai dari level pusat, propinsi, kotamadya, kabupaten dan termasuk derah otonomi setingkat kotamadya.  Pendidikan di Cina gratis selama 9 tahun pertama walaupun murid tetap harus mengeluarkan uang untuk membeli buku-buku pelajaran. Selepas tingkat Junior, orang tua harus membiayai sendiri pendidikan anak-anaknya. Ini membuat banyak anak-anak pedesaan atau anak-anak tak mampu untuk bersekolah.[17] Berikut dijelaskan secara singkat jenjang dan jenis-jenis pendidikan di Cina:               
1.    Pendidikan Dasar
Anak-anak Cina memulai pendidikan formal pada usia 3 tahun dengan masuk pra sekolah yang berlangsung selama 3 tahun. Dilanjutkan Sekolah Dasar pada usia 6 tahun. Sekolah Dasar berlangsung selama 6 tahun dengan mata pelajaran utama Bahasa Cina, Matematika, Sejarah, Geografi, Sains, dan sebagainya. Selain itu ada juga pendidikan moral dan politik dasar. Dukungan besar juga diberikan untuk pendidikan jasmani.
2.    Pendidikan Menengah
Pendidikan Menengah dibagi menjadi 2 bagian yaitu Pendidikan Menengah Akademis dan Pendidikan Menengah Kejuruan/Khusus/Teknik. Sekolah Menengah Akademis dibagi menjadi dua level, yaitu junior dan senior. Level junior dimulai pada usia 12 tahun dan berlangsung selama 3 tahun. Untuk masuk ke tingkat senior, mereka harus lulus tes yang akan menentukan apakah mereka dapat lanjut ke tingkat senior atau mengikuti kelas kejuruan.
Level senior dimulai pada usia 15 tahun berlangsung selama 2 atau 3 tahun. Di Sekolah Menengah Senior, murid-murid memilih untuk mengikuti kelas sains atau sosial. Lulusannya diarahkan untuk lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional. Olahraga dan politik juga dimasukkan ke dalam kurikulum.
Sekolah kejuruan memiliki program antara 2 sampai 4 tahun dan memberikan pelatihan keahlian di bidang pertanian, manajerial, ketenagakerjaan dan teknik. Sekolah teknik menawarkan program 4 tahun untuk melatih siswanya. Sekolah jenis ini diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terlatih.
3.    Pendidikan Khusus
Cina juga memiliki sistem pendidikan khusus untuk anak-anak dengan kemampuan khusus dan untuk anak-anak terbelakang. Anak-anak dengan kemampuan khusus akan diperbolehkan untuk melompat kelas. Anak-anak dengan kemampuan terbatas akan diarahkan untuk mencapai kemampuan standar minimum.
4.    Pendidikan Tinggi
Apapun jenis pendidikan tingginya mereka harus lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Nasional yang berlangsung pada bulan Juli dan diadakan pemisahan antara kelas sosial dan sains. Penempatan jurusan ditentukan oleh hasil tes. Siswa yang mengikuti ujian mendaftar untuk beberapa jurusan yang dipilih. Sistemnya serupa dengan SNMPTN di Indonesia.
Pendidikan tinggi menawarkan program akademik dan kejuruan. Sebenarnya ada banyak universitas dan college di Cina tapi tingkatan dan kualitasnya sangat bervariasi. Beberapa universitas yang terkenal misalnya Beijing University dan Shanghai’s University. Umumnya siswa harus menjalankan 4-5 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Untuk masuk tingkat master dan doktoral, mereka juga harus lulus ujian. Selain universitas ada college yang menawarkan 2 atau 3 tahun dengan jenis pendidikan kejuruan yang setara dengan diploma dan dapat meningkatkan gelarnya menjadi sarjana.
Selain dari sisi pendidikan, sukses kebangkitan ekonomi Cina mungkin juga tak lepas dari pengaruh semangat entrepreneurship warganya. Masrayakat Cina selalu aktif dalam kegiatan ekonomi. Menjadi pegawai atau pekerja kantoran, sedapat mungkin mereka hindari. Berbeda dengan kita yang sangat menghargai pekerjaan kantoran dan kebanyakan menganggap entrepreneur adalah pekerjaan beresiko tinggi.
5.    Pendidikan Karakter Cina
Dalam program reformasi pendidikan yang diinginkan oleh Deng Xiaoping pada tahun 1985, secara eksplisit diungkapkan tentang pentingnya pendidikan karakter: Throughout the reform of the education system,it is imperative to bear in mind that reform is for the fundamental
purpose of turning every citizen into a man or woman of character and
cultivating more constructive members of society
(Decisions of Reform
of the Education System, 1985). Karena itu program pendidikan karakter
telah menjadi kegiatan yang menonjol di Cina yang dijalankan sejak
jenjang pra-sekolah sampai universitas.
Tentunya, pendidikan karakter adalah berbeda secara konsep dan
metodologi dengan pendidikan moral, seperti PPKN, budi pekerti, atau
bahkan pendidikan agama di Indonesia. Pendidikan karakter adalah untuk
mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and
acting the good,
yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek
kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi
habit of the mind, heart, and hands.
Sedangkan pendidikan moral, misalnya PPKN dan pelajaran agama, adalah hanya melibatkan aspek kognitif (hafalan), tanpa ada apresiasi (emosi), dan praktik. Sehingga jangan heran kalau banyak manusia Indonesia yang hafal isi Pancasila atau ayat-ayat kitab suci, tetapi tidak tahu bagaimana membuang sampah yang benar, berlaku jujur, beretos kerja tinggi, dan menjalin hubungan harmonis dengan sesama.
Pendidikan karakter memerlukan keterlibatan semua aspek dimensi
manusia, sehingga tidak cocok dengan sistem pendidikan yang terlalu
menekankan hafalan dan orientasi untuk lulus ujian (kognitif). Hampir
semua pemimpin di Cina, dari Jiang Zemin, Li Peng, Zhu Rongji sampai
Hu Jianto dan lainnya, sangat prihatin dengan sistem pendidikan yang
terlalu menekankan aspek kognitif saja, yang dianggap dapat "membunuh"
karakter anak, misalnya PR yang terlalu banyak, pelajaran yang terlalu
berat, orientasi hafalan dan drilling, yang semuanya dapat membebani
siswa secara fisik, mental, dan jiwa.
Bahkan pada tanggal 1 Februari, 2000, Presiden Jiang Zemin
mengumpulkan semua anggota Politburo khusus untuk membahas bagaimana mengurangi beban pelajaran siswa melalui adopsi sistem pendidikan yang patut secara umur dan menyenangkan, dan pengembangan seluruh aspek dimensi manusia; aspek kognitif (intelektual), karakter, aestetika, dan fisik (atletik).
Pendidikan karakter di Cina sebenarnya juga didukung adanya norma dan etika yang dimiliki orang-orang Cina yaitu: 1). Kesederhanaan, 2). Pekerja keras dan Cerdas, 3). Fleksibel, 4). Tahan Banting, 5). Berani mengambil resiko, dan lain-lain.
Untuk mengembangkan pendidikan karakter tersebut, Li Lanqing melakukan reformasi pada kurikulum, buku teks, dan sistem evaluasi dan testing. Kurikulum sekolah dikembangkan sesuai dengan potensi yang dimiliki anak; kurikulum diarahkan untuk memfasilitasi semua potensi yang dimiliki anak agar berkembang secara optimal, melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada siswa melalui diskusi, mendorong pada pengembangan berfikir inovatif, dan pembelajaran yang berkualitas.[18]
III.     KESIMPULAN
Selama ini, Cina dikenal dengan kemajuannya di bidang ekonomi, kebudayaan, dan pendidikan. Dalam bidang ekonomi, Cina banyak menguasai berbagai macam bisnis, misalnya di Indonesia, banyak kita temui orang-orang Cina yang sukses dalam bisnis, karena dalam budaya Cina, mereka lebih menyukai menjadi pembisnis daripada pagawai. Di bidang kebudayaan dan Filsafat, Cina dikenal dengan peninggalan-peninggalan kebudayaan dan aliran-aliran filsafat, seperti Konfusius, Taoisme, Tembok Cina, dan lain-lain. Di bidang pendidikan, Cina mengambil kebijakan reformasi pendidikan, salah satunya pendidikan karakter.  


DAFTAR PUSTAKA
Andreas Lee Tan, Rahasia Keakayaan Orang-Orang Cina (Yogayakarta: Arti Bumi Lintara, 2008)
http://www.semipalar.net/artikel/art_index.html. Diunduh pada tanggal 16 Juni 2010.
http://id.wordpress.com/tag/cina/. Diunduh pada tanggal 16 Juni 2010.




[1] Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
[3] http://www.semipalar.net/artikel/art_index.html. Diunduh pada tanggal 16 Juni 2010.
[7] Andreas Lee Tan, Rahasia Keakayaan Orang-Orang Cina (Yogayakarta: Arti Bumi Lintara, 2008), hlm. 16.
[8] Ibid., hlm. 16.
[9] Ibid., hlm. 20
[10] http://id.wordpress.com/tag/cina/. Diunduh pada tanggal 16 Juni 2010.
[11] Andreas, Rahasia…, hlm. 24.
[12]Ibid, hal. 25-26
[13] Ibid, hal. 29
[14] Ibid, hal. 29-30
[15] Ibid, hal 36-37.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar